{
    "type": "FeatureCollection",
    "features": [
        {
            "type": "Feature",
            "geometry": {
                "type": "Point",
                "coordinates": [
                    110.6353019396166956767046940512955188751220703125,
                    -7.16422532883461027353177996701560914516448974609375,
                    0
                ]
            },
            "properties": {
                "name": "33.15.01_Kota Tua Di desa kedungjati",
                "styleUrl": "#msn_K",
                "styleHash": "7de4d0fa",
                "styleMapHash": {
                    "normal": "#sn_K",
                    "highlight": "#sh_K"
                },
                "description": "Melihat Rumah-Rumah Kolonial Tua di Tengah Hutan Jati Grobogan, Kental Nuansa Klasik\nKedungjati merupakan sebuah wilayah kecamatan yang letaknya berada di tengah kawasan hutan jati. Di sana masih banyak ditemukan bangunan-bangunan klasik peninggalan kolonial Belanda. Salah satunya adalah Stasiun Kedungjati. Stasiun itu dibangun pada tahun 1867 dan diresmikan pada tahun 1868.\n\nTak jauh dari Stasiun Kedungjati, terdapat bangunan tua yang dulunya menjadi tempat tinggal pejabat kereta api. Bangunan itu dibangun sekitar tahun 1907. Rumah itu desainnya seperti rumah-rumah orang Eropa di tengah perkebunan Alpen.\n\n\nCiri khas klasik masih tetap dipertahankan pada bangunan itu. Tampak dari samping, tiang penyangga bangunan itu diberikan besi dari rel agar bangunan itu bisa berdiri lebih kokoh. Bahan utama penyusun bangunan itu adalah kayu jati.\n\n\nTak jauh di sebelah utara Stasiun Kedungjati, ada sebuah bangunan bernama Gereja Kaliceret. Mengutip YouTube Jejak Tempoe Doloe, gereja itu dibangun pada tahun 1898.\n\nKeunikan dari bangunan itu adalah tidak ada pengait dari paku sekalipun untuk menyangga bangunan itu, melainkan sebuah pengancing yang terbuat dari kayu. Dinding-dinding itu juga terbuat dari kayu jati.\n\nDi gereja itu pula terdapat sebuah lonceng tua. Menurut warga sekitar, gereja itu dikirim dari Belanda pada tahun 1960-an. Di sisi kanan halaman gereja, terdapat rumah dinas para pendeta. Kini rumah dinas itu berubah menjadi sekolah dasar.\n\n\nTriatmo, salah seorang warga Kaliceret mengatakan, tempat ibadah itu dibangun oleh kolonial Belanda.\n\n“Bangunan ini masih asli peninggalan Belanda. Atapnya masih genteng, hanya beberapa genteng yang diganti karena sempat bocor,” kata Triatmo, mengutip YouTube Jejak Tempo Doeloe. \n\nSementara itu rumah pendeta yang tak jauh dari gereja itu dulunya pernah digunakan sebagai tempat penyekapan orang-orang pribumi oleh tentara Jepang, tepatnya antara Juni hingga Agustus 1945. Di sana para tahanan disekap dan disiksa oleh tentara Jepang. Bahkan beberapa di antaranya dieksekusi.\n\nTak jauh dari gereja itu, ada sebuah makam Belanda. Yang dimakamkan di sana adalah seorang pendeta.\n\nDia bernama Ginny Kuhnen, lahir pada 10 Agustus 1863 dan meninggal pada September 1899.\n\nDi sebelah makam itu, terdapat satu makam lagi yaitu milik Iboekoe Ma. Paulus Soemare, wafat pada tahun 1919. \n\nDi Kedungjati pula, terdapat sebuah rumah panggung peninggalan Belanda. Kini rumah itu difungsikan sebagai kantor BKPH. Dulunya rumah itu digungsikan sebagai rumah dinas kehutanan jati di area Kedungjati, Grobogan.",
                "iconUrl": "http://maps.google.com/mapfiles/kml/paddle/K.png"
            }
        }
    ]
}